Sabtu, 19 April 2025

Aspek Hukum Merek Dagang di Indonesia

I. Konteks Hukum Merek di Indonesia

A. Pentingnya Merek dalam Perdagangan

Merek merupakan elemen krusial dalam dunia bisnis dan perdagangan modern. Fungsinya sebagai identitas memungkinkan suatu produk atau jasa dikenali oleh konsumen, membedakannya dari produk atau jasa sejenis yang ditawarkan oleh pesaing di pasar. Pengenalan ini tidak hanya membangun citra tetapi juga menjadi dasar bagi reputasi dan loyalitas konsumen. Dalam konteks ekonomi yang lebih luas, perlindungan merek memegang peranan penting dalam menjaga persaingan usaha yang sehat dan berkeadilan.

Dengan memberikan hak eksklusif kepada pemilik merek terdaftar, hukum mencegah praktik-praktik tidak jujur seperti peniruan atau pendomplengan reputasi. Lebih lanjut, kerangka hukum merek yang kuat berkontribusi pada perlindungan konsumen dengan memastikan kejelasan asal-usul dan kualitas produk atau jasa. Secara strategis, perlindungan merek juga menjadi instrumen vital untuk mendukung pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri dalam negeri dalam menghadapi persaingan di era perdagangan global.  

B. Landasan Hukum Utama

Di Indonesia, pengaturan mengenai merek secara komprehensif diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (UU MIG). Undang-undang ini menjadi landasan hukum utama yang menggantikan peraturan sebelumnya, yaitu Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. Pergantian ini didasari oleh kebutuhan untuk menyesuaikan kerangka hukum dengan perkembangan pesat dalam perekonomian lokal, nasional, regional, dan internasional, serta kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

UU MIG dirancang untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dan kepastian hukum yang lebih kuat bagi dunia industri, perdagangan, dan investasi. Undang-undang ini tidak hanya mengatur tentang Merek tetapi juga tentang Indikasi Geografis, yang sebelumnya tidak diatur secara komprehensif dalam UU Merek terdahulu.  

C. Lingkup Tulisan

Tulisan ini bertujuan untuk menyajikan analisis mendalam mengenai pengertian, konsep, fungsi, syarat pendaftaran, hak-hak eksklusif, serta jangka waktu perlindungan merek dagang (dan merek secara umum) berdasarkan hukum positif Indonesia, dengan fokus utama pada ketentuan-ketentuan dalam UU MIG dan peraturan pelaksananya. Analisis ini akan mengupas secara rinci aspek-aspek fundamental yang relevan bagi pemahaman praktis maupun akademis mengenai hukum merek di Indonesia, sebagaimana diamanatkan dalam lingkup pertanyaan yang diajukan.

D. Modernisasi dan Harmonisasi Internasional

Pemberlakuan UU MIG pada tahun 2016 menandai upaya signifikan pemerintah Indonesia untuk memodernisasi sistem hukum kekayaan intelektualnya, khususnya di bidang merek. Hal ini secara eksplisit tercermin dalam bagian 'Menimbang' undang-undang tersebut, yang menyatakan bahwa peranan Merek dan Indikasi Geografis menjadi sangat penting dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi internasional yang telah diratifikasi Indonesia. Penggantian UU No. 15 Tahun 2001 dianggap perlu karena undang-undang lama dinilai masih memiliki kekurangan, belum dapat menampung perkembangan kebutuhan masyarakat, dan belum cukup menjamin perlindungan potensi ekonomi lokal dan nasional.  

Modernisasi ini terlihat jelas dalam beberapa aspek UU MIG. Pertama, adanya perluasan definisi merek yang secara eksplisit mencakup jenis-jenis merek non-tradisional seperti suara, bentuk tiga dimensi, dan hologram. Kedua, penguatan pengaturan mengenai Indikasi Geografis dalam satu undang-undang bersama merek. Ketiga, fasilitasi pendaftaran merek internasional melalui aksesi Indonesia ke Protokol Madrid, yang kemudian diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2018.

Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk mengintegrasikan sistem hukum mereknya dengan standar dan praktik internasional, terutama yang diamanatkan oleh Persetujuan TRIPS (Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights) di bawah WTO, yang ratifikasinya juga disebut dalam UU MIG. Konsekuensinya, kerangka hukum merek di Indonesia menjadi lebih sejalan dengan norma global, menawarkan prediktabilitas yang lebih besar bagi pelaku bisnis internasional, sekaligus menuntut pemahaman yang lebih mendalam dari pelaku usaha domestik terhadap sistem yang lebih kompleks dan berpotensi ditegakkan secara lebih ketat.  

II. Definisi Yuridis Merek dan Merek Dagang

UU MIG memberikan definisi yang jelas dan komprehensif mengenai berbagai jenis merek yang diakui dalam sistem hukum Indonesia.

A. Definisi "Merek"

Definisi fundamental "Merek" tercantum dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 20/2016, yang menyatakan: "Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa."  

Definisi ini mengandung beberapa elemen kunci:

  1. Tanda ('Sign'): Merek pada dasarnya adalah suatu penanda.
  2. Dapat Ditampilkan Secara Grafis ('Capable of Graphical Representation'): Syarat ini penting untuk keperluan pendaftaran dan publikasi, memungkinkan pihak ketiga memahami lingkup perlindungan yang dimohonkan.
  3. Bentuk Tanda: UU MIG secara eksplisit menyebutkan berbagai bentuk tanda yang dapat berfungsi sebagai merek, mencakup elemen visual tradisional (gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna) maupun non-tradisional (bentuk 2D/3D, suara, hologram). Kombinasi dari unsur-unsur ini juga dimungkinkan.  
  4. Fungsi Pembeda ('Distinguishing Function'): Tujuan utama merek adalah untuk membedakan ('membedakan') barang atau jasa suatu entitas dari barang atau jasa entitas lain dalam kegiatan perdagangan.  

B. Definisi "Merek Dagang" (Trade Mark)

Secara lebih spesifik, Pasal 1 angka 2 UU No. 20/2016 mendefinisikan "Merek Dagang" sebagai: "Merek Dagang adalah Merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang sejenis lainnya."  

Definisi ini memperjelas bahwa Merek Dagang adalah bagian dari konsep Merek secara umum, namun secara khusus diaplikasikan pada barang (produk fisik) yang diperdagangkan. Fungsinya tetap sama, yaitu sebagai pembeda dari barang-barang sejenis yang berasal dari sumber lain. Contoh merek dagang meliputi nama atau logo pada kemasan produk seperti Aqua, SONY, atau Sosro.  

C. Definisi "Merek Jasa" (Service Mark)

Sejalan dengan Merek Dagang, Pasal 1 angka 3 UU No. 20/2016 mendefinisikan "Merek Jasa": "Merek Jasa adalah Merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa sejenis lainnya."  

Merek Jasa memiliki fungsi identik dengan Merek Dagang, yaitu sebagai pembeda, namun diaplikasikan pada jasa (layanan) yang ditawarkan dalam kegiatan perdagangan.

D. Definisi "Merek Kolektif" (Collective Mark)

UU MIG juga mengakui "Merek Kolektif", yang didefinisikan dalam Pasal 1 angka 4 UU No. 20/2016 sebagai: "Merek Kolektif adalah Merek yang digunakan pada barang dan/atau jasa dengan karakteristik yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa sejenis lainnya."  

Merek Kolektif digunakan oleh sekelompok produsen atau penyedia jasa yang tergabung dalam suatu asosiasi atau badan hukum untuk menandai produk atau jasa mereka yang memiliki karakteristik bersama. Pendaftaran Merek Kolektif memiliki persyaratan khusus yang diatur lebih lanjut, misalnya dalam Pasal 46 UU MIG, yang mensyaratkan pernyataan eksplisit dalam permohonan bahwa merek tersebut akan digunakan sebagai Merek Kolektif.  

E. Perluasan Lingkup Tanda yang Dapat Dilindungi

Salah satu aspek modernisasi yang paling kentara dalam UU MIG adalah perluasan definisi "Merek" itu sendiri. Dibandingkan dengan definisi dalam undang-undang sebelumnya atau interpretasi yang lebih sempit yang mungkin hanya fokus pada elemen visual tradisional seperti nama dan logo , definisi dalam Pasal 1 angka 1 UU 20/2016 secara tegas mencakup tanda-tanda non-tradisional. Penyebutan eksplisit suara, bentuk tiga dimensi, dan hologram sebagai bentuk tanda yang dapat didaftarkan merupakan kemajuan signifikan.  

Perluasan ini mencerminkan pengakuan terhadap praktik branding modern yang semakin kreatif dan beragam, serta upaya harmonisasi dengan standar internasional yang juga mengakui bentuk-bentuk merek non-konvensional. UU MIG bahkan mengantisipasi kebutuhan prosedural untuk jenis merek ini, misalnya dengan mensyaratkan lampiran notasi dan rekaman suara untuk pendaftaran merek suara (Pasal 4 ayat 7). Implikasinya, pelaku usaha di Indonesia kini memiliki kesempatan untuk melindungi aset branding mereka yang lebih beragam, tidak terbatas pada nama atau logo saja. Namun, perlu dicatat bahwa semua jenis tanda ini, baik tradisional maupun non-tradisional, tetap harus memenuhi syarat fundamental lainnya, terutama kemampuan untuk berfungsi sebagai pembeda (memiliki daya pembeda) dan dapat direpresentasikan secara grafis.  

III. Konsep Dasar, Tujuan, dan Lingkup Perlindungan Merek

A. Konsep Fundamental: Pembeda Identitas (Identity Differentiator)

Inti dari konsep merek dalam hukum Indonesia adalah fungsinya sebagai pembeda atau penanda identitas. Sebagaimana ditegaskan dalam definisi Pasal 1 angka 1 UU MIG, merek digunakan untuk "membedakan barang dan/atau jasa". Artinya, sebuah tanda dapat dianggap sebagai merek jika ia memiliki kapasitas inheren atau kapasitas yang diperoleh melalui pemakaian untuk menunjukkan bahwa suatu barang atau jasa berasal dari sumber tertentu, dan dengan demikian membedakannya dari barang atau jasa serupa yang berasal dari sumber lain. Merek mempersonalisasi produk atau jasa di pasar. Penting untuk dipahami bahwa merek merupakan aset tak berwujud (intangible asset), suatu bentuk hak kebendaan tidak berwujud yang eksistensinya terpisah dari barang atau jasa fisik yang diwakilinya. Meskipun barang atau jasa tersebut habis dikonsumsi, hak atas mereknya tetap ada.  

B. Tujuan Perlindungan Merek

Perlindungan hukum terhadap merek melalui UU MIG memiliki beberapa tujuan fundamental:

  1. Memberikan Kepastian Hukum dan Perlindungan bagi Pemilik: Tujuan utama adalah memberikan kepastian hukum dan hak eksklusif kepada pemilik merek yang telah terdaftar. Pendaftaran berfungsi sebagai alat bukti kepemilikan yang sah di mata hukum , melindungi investasi pemilik dalam membangun reputasi merek.  
  2. Menjaga Persaingan Usaha yang Sehat: Dengan melarang penggunaan merek yang sama atau mirip secara tanpa hak, hukum merek bertujuan mencegah praktik persaingan tidak sehat, seperti meniru atau mendompleng ketenaran merek lain. Ini memastikan bahwa pelaku usaha bersaing secara adil berdasarkan kualitas dan inovasi, bukan dengan membingungkan konsumen.  
  3. Melindungi Kepentingan Konsumen: Perlindungan merek juga berfungsi melindungi konsumen dari kebingungan atau penipuan mengenai asal-usul, kualitas, atau karakteristik barang atau jasa yang mereka beli. Merek yang jelas membantu konsumen membuat pilihan yang terinformasi.  
  4. Mendorong Pembangunan Ekonomi Nasional: UU MIG secara eksplisit menyebutkan tujuan perlindungan bagi UMKM dan industri dalam negeri. Dengan melindungi aset merek mereka, diharapkan UMKM dan industri nasional dapat berkembang dan bersaing lebih baik, baik di pasar domestik maupun global.  

C. Lingkup Perlindungan (What is Protected)

Perlindungan merek yang diberikan oleh UU MIG memiliki batasan atau lingkup tertentu:

  1. Tanda Spesifik: Perlindungan diberikan hanya untuk tanda spesifik (logo, kata, suara, dll.) sebagaimana yang didaftarkan dan tercantum dalam sertifikat merek.  
  2. Barang/Jasa Tertentu: Perlindungan berlaku untuk kelas barang dan/atau jasa tertentu yang dimohonkan dan disetujui pada saat pendaftaran. Penggunaan merek untuk barang atau jasa di luar kelas yang terdaftar tidak secara otomatis dilindungi dan bahkan dapat menjadi dasar penghapusan merek jika tidak sesuai.  
  3. Wilayah Teritorial: Perlindungan merek pada dasarnya bersifat teritorial, artinya hanya berlaku di wilayah hukum Indonesia. Namun, perlindungan dapat diperluas ke negara lain melalui mekanisme pendaftaran internasional seperti Protokol Madrid, yang telah diakomodasi oleh Indonesia.  
  4. Prinsip Pendaftaran Pertama ('First-to-File'): Hak atas merek di Indonesia diperoleh melalui pendaftaran, bukan pemakaian pertama. Sistem yang dianut adalah 'first-to-file', yang berarti pihak yang pertama kali mengajukan permohonan pendaftaran untuk suatu merek (dan memenuhi syarat) yang akan diberikan haknya.  

D. Keseimbangan antara 'First-to-File' dan 'Itikad Baik'

Meskipun Indonesia menganut sistem 'first-to-file' , di mana prioritas diberikan kepada pendaftar pertama, sistem ini tidaklah absolut. UU MIG secara signifikan memoderasi prinsip ini dengan memasukkan doktrin 'itikad tidak baik' (bad faith) sebagai salah satu dasar penolakan permohonan merek (Pasal 21 ayat 3).  

Keberadaan ketentuan mengenai itikad tidak baik ini menciptakan nuansa penting dalam sistem pendaftaran merek Indonesia. Prioritas waktu pengajuan tidak akan melindungi pemohon jika dapat dibuktikan bahwa permohonan tersebut diajukan dengan niat buruk. Penjelasan UU MIG dan praktik hukum mengindikasikan bahwa itikad tidak baik dapat diartikan sebagai adanya niat untuk meniru, menjiplak, atau mengikuti merek pihak lain demi kepentingan usahanya sendiri, yang berpotensi menimbulkan kondisi persaingan usaha tidak sehat, atau mengecoh serta menyesatkan konsumen. Contoh konkret bisa berupa pendaftaran merek yang sangat mirip atau identik dengan merek lain yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, meskipun merek tersebut belum terdaftar di Indonesia.  

Penyertaan klausul itikad tidak baik ini menunjukkan bahwa pembentuk undang-undang menyadari potensi penyalahgunaan sistem 'first-to-file' yang ketat. Praktik 'pembajakan merek' (trademark squatting), di mana pihak tertentu mendaftarkan merek milik orang lain (terutama merek asing terkenal) dengan tujuan untuk menjualnya kembali kepada pemilik asli atau menghalangi masuknya pesaing ke pasar, dapat dicegah melalui ketentuan ini. Dengan demikian, doktrin itikad baik berfungsi sebagai katup pengaman (safety valve) yang memberikan perlindungan bagi pemilik merek yang sah (meskipun mungkin belum mendaftar) terhadap upaya pendaftaran yang didasari niat curang. Namun, perlu digarisbawahi bahwa pembuktian adanya itikad tidak baik dalam proses pemeriksaan atau sengketa merek seringkali menjadi tantangan tersendiri dan memerlukan argumentasi serta bukti yang kuat. Hal ini menekankan pentingnya tidak hanya kecepatan dalam mendaftar, tetapi juga orisinalitas dan praktik bisnis yang etis dalam pemilihan dan penggunaan merek.  

IV. Kerangka Peraturan Perundang-undangan Merek di Indonesia

Sistem hukum merek di Indonesia tersusun secara hierarkis, dengan beberapa tingkatan peraturan yang saling melengkapi.

A. Undang-Undang Utama

Puncak dari kerangka peraturan adalah Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (UU MIG). Undang-undang ini mulai berlaku efektif sejak tanggal diundangkan, yaitu 25 November 2016 , dan secara tegas mencabut keberlakuan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. UU MIG memuat prinsip-prinsip dasar, definisi, ruang lingkup perlindungan, hak dan kewajiban, prosedur pendaftaran, penegakan hukum, serta ketentuan pidana terkait merek dan indikasi geografis. Perlu dicatat bahwa undang-undang ini dapat mengalami perubahan melalui peraturan perundang-undangan lain, seperti yang terjadi melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Omnibus Law), yang mengubah beberapa ketentuan dalam UU MIG.  

B. Peraturan Pemerintah (PP)

Di bawah Undang-Undang, terdapat Peraturan Pemerintah (PP) yang berfungsi sebagai peraturan pelaksana untuk mengatur aspek-aspek tertentu secara lebih teknis. Beberapa PP yang relevan dengan UU MIG antara lain:

  • PP No. 28 Tahun 2019 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia: PP ini menetapkan besaran biaya resmi untuk berbagai layanan kekayaan intelektual, termasuk biaya permohonan pendaftaran, perpanjangan, dan layanan merek lainnya yang diajukan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).  
  • PP No. 22 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Merek Internasional Berdasarkan Protokol Terkait dengan Persetujuan Madrid Mengenai Pendaftaran Merek Secara Internasional: PP ini mengatur secara rinci prosedur dan ketentuan terkait pendaftaran merek internasional melalui sistem Madrid Protocol, baik untuk permohonan yang berasal dari Indonesia maupun yang menunjuk Indonesia sebagai negara tujuan.  
  • PP No. 90 Tahun 2019 tentang Tata Cara Permohonan, Pemeriksaan, dan Penyelesaian Banding pada Komisi Banding Merek: PP ini mengatur prosedur pengajuan banding terhadap keputusan penolakan permohonan merek oleh DJKI ke Komisi Banding Merek.  

C. Peraturan Menteri Hukum dan HAM (Permenkumham)

Lebih lanjut, detail teknis dan prosedur administratif diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Permenkumham). Peraturan yang paling sentral adalah Permenkumham No. 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek, yang telah mengalami perubahan (misalnya oleh Permenkumham No. 12 Tahun 2021). Permenkumham ini menjabarkan secara rinci mengenai tata cara pengajuan permohonan, persyaratan dokumen, pemeriksaan formalitas dan substantif, klasifikasi barang dan jasa (mengacu pada Nice Classification), publikasi, oposisi, penerbitan sertifikat, pencatatan pengalihan hak, lisensi, serta prosedur perpanjangan.  

D. Konvensi Internasional

Kerangka hukum merek Indonesia juga tidak terlepas dari pengaruh konvensi-konvensi internasional di bidang kekayaan intelektual yang telah diratifikasi. UU MIG sendiri merujuk pada pentingnya penyelarasan dengan konvensi internasional. Indonesia adalah anggota World Trade Organization (WTO) dan terikat pada Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS). Selain itu, aksesi Indonesia ke Madrid Protocol menunjukkan komitmen untuk berpartisipasi dalam sistem pendaftaran merek internasional. Konvensi-konvensi ini turut membentuk prinsip-prinsip dan standar minimum perlindungan merek yang diadopsi dalam hukum nasional.  

E. Sifat Hierarkis dan Dinamis Kerangka Regulasi

Struktur peraturan perundang-undangan merek di Indonesia bersifat hierarkis, dimulai dari UU MIG sebagai hukum dasar, diikuti oleh PP dan Permenkumham yang memberikan rincian pelaksanaan. Struktur ini memungkinkan fleksibilitas; perubahan pada prosedur teknis, biaya, atau adaptasi terhadap perkembangan baru dapat dilakukan melalui revisi PP atau Permenkumham tanpa harus sering mengubah undang-undang dasarnya.  

Namun, sifat dinamis juga melekat pada kerangka ini. Sebagaimana ditunjukkan oleh adanya perubahan melalui UU Cipta Kerja , regulasi merek dapat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang lebih luas, misalnya dalam upaya penyederhanaan perizinan berusaha atau reformasi regulasi lainnya. Oleh karena itu, para praktisi hukum, pelaku usaha, dan pihak berkepentingan lainnya harus senantiasa memantau tidak hanya UU MIG, tetapi juga seluruh peraturan pelaksananya (PP dan Permenkumham) serta potensi perubahan dari undang-undang lain yang bersifat lintas sektoral. Mengandalkan pemahaman hanya pada UU MIG saja tidak akan cukup untuk memastikan kepatuhan penuh dan pemahaman yang akurat terhadap prosedur dan persyaratan yang berlaku saat ini.  

V. Fungsi-Fungsi Merek Menurut Hukum Indonesia

Merek memiliki peran multifaset dalam ekosistem perdagangan. Berdasarkan UU MIG dan pandangan para ahli hukum, fungsi-fungsi merek dapat diuraikan sebagai berikut:

A. Fungsi Pembeda (Distinguishing Function)

Ini adalah fungsi paling fundamental dan melekat pada definisi hukum merek itu sendiri. Merek berfungsi sebagai tanda pengenal yang memungkinkan konsumen untuk membedakan barang atau jasa yang berasal dari satu produsen atau penyedia jasa dengan barang atau jasa sejenis yang berasal dari produsen atau penyedia jasa lain. Tanpa fungsi pembeda ini, pasar akan menjadi kacau dan konsumen akan kesulitan mengidentifikasi produk atau jasa yang mereka inginkan atau percayai. Kemampuan membedakan ini merupakan syarat mutlak agar suatu tanda dapat didaftarkan sebagai merek.  

B. Fungsi Penunjuk Asal (Origin Function)

Merek berfungsi sebagai penunjuk asal-usul barang atau jasa. Ia mengidentifikasi sumber komersial produk tersebut, menghubungkannya dengan perusahaan atau individu tertentu yang bertanggung jawab atas produksinya atau penyediaannya. Fungsi ini penting untuk membangun reputasi dan akuntabilitas. Konsumen dapat mengandalkan merek untuk mengetahui siapa yang berada di balik produk atau jasa yang mereka gunakan. Para ahli seperti Prof. Molengraaf juga menekankan fungsi merek untuk menunjukkan asal barang.  

C. Fungsi Jaminan Kualitas (Quality Guarantee Function)

Secara tidak langsung, merek berfungsi sebagai jaminan atas mutu atau kualitas barang atau jasa. Konsumen yang memiliki pengalaman positif dengan suatu merek akan mengembangkan ekspektasi bahwa produk atau jasa lain dengan merek yang sama akan memiliki standar kualitas yang konsisten. Fungsi ini, sebagaimana juga disinggung oleh Prof. Molengraaf , membangun kepercayaan konsumen dan mendorong produsen untuk menjaga kualitas produk atau jasanya demi mempertahankan reputasi merek.  

D. Fungsi Promosi dan Pemasaran (Advertising/Promotional Function)

Merek adalah alat promosi dan pemasaran yang sangat efektif. Nama, logo, atau tanda lain yang menarik dan mudah diingat dapat membantu menarik perhatian konsumen, membangun citra merek, dan memfasilitasi kampanye iklan. Merek yang kuat dapat menjadi daya tarik utama dalam strategi pemasaran, memengaruhi keputusan pembelian konsumen, dan membantu memperluas pangsa pasar.  

E. Fungsi Aset Ekonomi (Economic Asset Function)

Diakui sebagai hak kebendaan tidak berwujud, merek memiliki nilai ekonomi yang signifikan bagi pemiliknya. Merek yang kuat dan memiliki reputasi baik merupakan aset berharga yang dapat meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. Nilai ini dapat direalisasikan melalui berbagai cara, seperti penjualan merek, penggunaan sebagai jaminan, atau melalui lisensi. UU MIG secara eksplisit mengatur kemungkinan pengalihan hak atas merek terdaftar (Pasal 41) dan pemberian lisensi (Pasal 42) , yang menegaskan status merek sebagai aset ekonomi yang dapat dimonetisasi.  

F. Keterkaitan Antar Fungsi

Penting untuk dipahami bahwa kelima fungsi merek ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan memperkuat satu sama lain. Kemampuan dasar sebuah merek untuk membedakan (Fungsi A) adalah fondasi yang memungkinkan konsumen mengasosiasikannya dengan asal tertentu (Fungsi B). Pengalaman yang konsisten dengan produk dari asal tersebut akan membangun persepsi mengenai kualitas yang terjamin (Fungsi C), yang kemudian dapat dimanfaatkan dalam kegiatan promosi (Fungsi D). Gabungan dari fungsi-fungsi inilah yang pada akhirnya menciptakan nilai ekonomi (Fungsi E) yang melekat pada merek sebagai aset tak berwujud.

Sebagai contoh, sebuah logo yang unik (pembeda) menjadi dikenal sebagai milik Perusahaan X (asal). Jika produk Perusahaan X secara konsisten berkualitas baik, logo tersebut menjadi simbol kualitas (jaminan kualitas). Perusahaan X kemudian dapat menggunakan logo tersebut dalam iklan untuk menarik lebih banyak pelanggan (promosi). Reputasi yang terbangun melalui fungsi-fungsi ini menjadikan logo tersebut aset berharga yang bisa dilisensikan atau meningkatkan nilai jual perusahaan (aset ekonomi). Oleh karena itu, perlindungan hukum terhadap merek pada hakikatnya melindungi keseluruhan bundel fungsi ini dan goodwill yang terkait dengannya. Kerusakan pada salah satu fungsi, misalnya hilangnya daya pembeda atau tercemarnya reputasi kualitas, dapat berdampak negatif pada fungsi lainnya dan mengurangi nilai keseluruhan merek.

VI. Jenis-Jenis Tanda yang Dapat Didaftarkan sebagai Merek

UU MIG memberikan fleksibilitas yang cukup luas mengenai jenis tanda yang dapat memperoleh perlindungan sebagai merek, selama memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

A. Enumerasi Berdasarkan Pasal 1(1) UU MIG

Pasal 1 angka 1 UU MIG secara eksplisit menyebutkan berbagai bentuk tanda yang dapat didaftarkan. Daftar ini mencakup :  

  • Gambar (Image/Picture): Representasi visual dua dimensi.
  • Logo: Simbol grafis yang dirancang khusus.
  • Nama (Name): Nama orang, nama fiktif, atau nama perusahaan.
  • Kata (Word): Kata-kata yang ada dalam kamus atau kata-kata ciptaan baru (coined words).
  • Huruf (Letters): Satu huruf atau kombinasi huruf (inisial, akronim).
  • Angka (Numerals): Satu angka atau kombinasi angka.
  • Susunan Warna (Color Composition): Kombinasi warna tertentu yang diaplikasikan secara khusus pada barang atau kemasan.
  • Bentuk 2 Dimensi (2D Form): Bentuk atau konfigurasi dua dimensi yang unik, seperti bentuk label atau kemasan datar.
  • Bentuk 3 Dimensi (3D Form): Bentuk produk itu sendiri atau bentuk kemasannya yang memiliki ciri khas tiga dimensi.
  • Suara (Sound): Jingle iklan, melodi singkat, atau suara unik lainnya yang dapat mengidentifikasi sumber barang/jasa.
  • Hologram: Gambar tiga dimensi yang dihasilkan oleh teknologi holografi.
  • Kombinasi dari 2 atau lebih unsur tersebut: Gabungan dari beberapa jenis tanda di atas (misalnya, logo dengan nama dan susunan warna).

B. Merek Tradisional vs. Non-Tradisional

Dari daftar di atas, dapat diklasifikasikan jenis-jenis merek menjadi:

  • Merek Tradisional: Umumnya mencakup tanda-tanda visual seperti nama, kata, logo, gambar, huruf, angka. Ini adalah bentuk merek yang paling umum dan telah lama diakui.
  • Merek Non-Tradisional: Mencakup tanda-tanda yang tidak hanya mengandalkan aspek visual, seperti suara, bentuk tiga dimensi (kemasan produk atau bentuk produk itu sendiri), hologram, dan susunan warna per se (warna tunggal atau kombinasi warna sebagai pengenal sumber). UU MIG secara jelas mengakomodasi pendaftaran merek non-tradisional ini.  

C. Persyaratan Representasi Grafis

Syarat fundamental bagi semua jenis tanda agar dapat didaftarkan sebagai merek adalah kemampuannya untuk "ditampilkan secara grafis". Persyaratan ini penting agar merek dapat diperiksa, dipublikasikan dalam Berita Resmi Merek, dan dipahami oleh publik mengenai lingkup perlindungannya. Untuk merek non-tradisional, UU MIG memberikan panduan lebih lanjut:  

  • Untuk Merek 3 Dimensi, label merek yang dilampirkan harus berupa representasi visual dari karakteristik bentuk tiga dimensi tersebut (Pasal 4 ayat 6). Ini bisa berupa gambar dari berbagai sudut pandang atau deskripsi teknis.  
  • Untuk Merek Suara, label merek yang dilampirkan harus berupa notasi musik atau sonogram, disertai dengan rekaman suara (Pasal 4 ayat 7).  

D. Tantangan Praktis Merek Non-Tradisional

Meskipun UU MIG secara hukum membuka pintu bagi pendaftaran merek non-tradisional, jenis merek ini seringkali menghadapi tantangan praktis yang unik dalam memenuhi persyaratan pendaftaran. Tantangan utama terletak pada pembuktian daya pembeda (distinctiveness). Berbeda dengan kata atau logo yang secara inheren dapat berfungsi sebagai penanda sumber, konsumen mungkin tidak secara otomatis menganggap suara, bentuk produk, atau warna sebagai indikator asal. Misalnya, bentuk fungsional suatu produk atau warna standar dalam industri tertentu kemungkinan besar akan dianggap tidak memiliki daya pembeda. Oleh karena itu, pemohon merek non-tradisional seringkali perlu menunjukkan bahwa tanda tersebut telah memperoleh daya pembeda melalui pemakaian yang intensif di pasar (acquired distinctiveness atau secondary meaning), sehingga konsumen telah terbiasa mengasosiasikannya dengan sumber tertentu.

Selain itu, pemenuhan syarat representasi grafis juga bisa menjadi kompleks. Bagaimana merepresentasikan suara secara akurat hanya dengan notasi? Bagaimana gambar teknis dapat menangkap esensi pembeda dari sebuah bentuk tiga dimensi? Representasi grafis harus cukup jelas dan presisi untuk mendefinisikan lingkup perlindungan tanpa menjadi terlalu luas atau ambigu. Proses pemeriksaan substantif oleh DJKI untuk merek non-tradisional kemungkinan akan lebih mendalam dan memerlukan bukti pemakaian yang lebih kuat dibandingkan merek tradisional. Pelaku usaha yang ingin mendaftarkan merek non-tradisional harus siap menghadapi potensi pemeriksaan yang lebih ketat dan berinvestasi dalam membangun bukti daya pembeda serta memastikan representasi grafis yang memadai.

VII. Syarat Pendaftaran Merek di Indonesia

Agar suatu tanda dapat didaftarkan sebagai merek di Indonesia, serangkaian persyaratan formal (administratif) dan substantif harus dipenuhi.

A. Syarat Formal/Administratif (Ringkas)

Prosedur administratif awal melibatkan pemenuhan kelengkapan dokumen dan data sesuai ketentuan UU MIG dan Permenkumham terkait:

  • Pengajuan Permohonan: Diajukan kepada Menteri Hukum dan HAM melalui DJKI, baik secara elektronik (online) maupun non-elektronik (tertulis), dalam Bahasa Indonesia.  
  • Informasi Pemohon: Mencantumkan data lengkap pemohon (nama, kewarganegaraan, alamat) dan/atau kuasa jika menggunakan jasa Konsultan Kekayaan Intelektual terdaftar.  
  • Detail Merek: Melampirkan label merek (contoh visual atau representasi grafis lainnya), klaim warna jika relevan, serta kelas dan uraian jenis barang/jasa yang dimohonkan perlindungannya.  
  • Dokumen Pendukung: Melampirkan bukti pembayaran biaya permohonan (PNBP), surat pernyataan kepemilikan merek, dan surat kuasa (jika menggunakan kuasa). Jika mengklaim Hak Prioritas, bukti prioritas juga harus dilampirkan.  
  • Kewajiban Menggunakan Kuasa: Pemohon yang bertempat tinggal atau berkedudukan tetap di luar wilayah Indonesia wajib mengajukan permohonan melalui Kuasa (Konsultan KI terdaftar di Indonesia).  
  • Tanggal Penerimaan: Permohonan akan mendapatkan Tanggal Penerimaan (Filing Date) jika telah memenuhi persyaratan minimum, yaitu formulir permohonan yang terisi lengkap, label merek, dan bukti pembayaran biaya. Tanggal ini penting untuk menentukan prioritas.  

B. Syarat Substantif (Fokus Utama)

Setelah syarat formal terpenuhi, permohonan akan melalui pemeriksaan substantif untuk menilai apakah merek tersebut layak didaftarkan berdasarkan kriteria hukum. Syarat substantif utama adalah:

  1. Memiliki Daya Pembeda (Distinctiveness): Ini adalah syarat positif fundamental. Sebagaimana telah dibahas, merek harus mampu membedakan barang/jasa pemohon dari barang/jasa pihak lain. Pasal 20 huruf (e) UU MIG secara eksplisit menyatakan bahwa merek tidak dapat didaftar jika "tidak memiliki daya pembeda". Tanda yang dianggap tidak memiliki daya pembeda mencakup tanda yang terlalu sederhana (misalnya satu garis), terlalu rumit sehingga tidak jelas, atau bersifat deskriptif murni terhadap barang/jasa terkait.  
  2. Tidak Termasuk Kategori Merek yang Tidak Dapat Didaftar (Absolute Grounds - Pasal 20): Pasal 20 UU MIG menetapkan alasan-alasan absolut mengapa suatu merek tidak dapat diterima untuk pendaftaran, terlepas dari apakah ada merek lain yang serupa. Alasan-alasan ini berkaitan dengan sifat inheren tanda itu sendiri atau kebijakan publik :  
    • (a) Bertentangan dengan ideologi negara, peraturan perundang-undangan, moralitas, agama, kesusilaan, atau ketertiban umum: Merek tidak boleh melanggar norma fundamental negara dan masyarakat.
    • (b) Sama dengan, berkaitan dengan, atau hanya menyebut barang dan/atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya: Merek tidak boleh bersifat deskriptif (misalnya, merek "ENAK" untuk makanan) atau generik (misalnya, merek "KECAP" untuk kecap).
    • (c) Memuat unsur yang dapat menyesatkan masyarakat: Merek tidak boleh menipu konsumen mengenai asal, kualitas, jenis, ukuran, tujuan penggunaan, dll. (misalnya, merek "SUTRA ASLI" untuk kain sintetis), atau merupakan nama varietas tanaman yang dilindungi.
    • (d) Memuat keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, atau khasiat: Merek tidak boleh mengandung klaim palsu atau berlebihan (misalnya, merek "OBAT DEWA" yang mengklaim menyembuhkan segala penyakit).  
    • (e) Tidak memiliki daya pembeda: Sebagaimana dijelaskan di poin 1.
    • (f) Merupakan nama umum dan/atau lambang milik umum: Merek tidak boleh menggunakan istilah yang sudah menjadi nama jenis barang/jasa itu sendiri (misalnya, "RUMAH MAKAN" untuk restoran ) atau simbol yang bebas digunakan publik (misalnya, lambang daur ulang).  
    • Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa merek yang mengandung bentuk yang bersifat fungsional tidak dapat didaftarkan. Bentuk fungsional adalah bentuk yang diperlukan untuk fungsi teknis produk itu sendiri dan tidak dapat dimonopoli sebagai merek.  
  3. Tidak Termasuk Kategori Permohonan yang Ditolak (Relative Grounds - Pasal 21): Pasal 21 UU MIG mengatur alasan-alasan penolakan yang bersifat relatif, artinya penolakan terjadi karena adanya konflik dengan hak pihak lain yang sudah ada sebelumnya :  
    • (Ayat 1) Mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan:
      • (a) Merek terdaftar milik pihak lain atau yang dimohonkan lebih dahulu oleh pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis.
      • (b) Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis.
      • (c) Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa tidak sejenis, jika memenuhi persyaratan tertentu (misalnya, dapat mengurangi daya pembeda merek terkenal tersebut atau menunjukkan hubungan yang tidak sebenarnya).
      • (d) Indikasi Geografis yang sudah terdaftar.
    • (Ayat 2) Merupakan atau menyerupai:
      • (a) Nama atau singkatan nama orang terkenal, foto, atau nama badan hukum milik orang lain (kecuali ada persetujuan tertulis).
      • (b) Tiruan atau menyerupai nama/singkatan nama, bendera, lambang/simbol negara atau lembaga nasional/internasional (kecuali ada persetujuan tertulis).
      • (c) Tiruan atau menyerupai tanda/cap/stempel resmi negara atau lembaga pemerintah (kecuali ada persetujuan tertulis).
    • (Ayat 3) Diajukan oleh Pemohon yang Beritikad Tidak Baik: Sebagaimana telah dibahas sebelumnya.
  4. Prinsip Itikad Baik (Good Faith): Syarat ini bersifat menyeluruh. Permohonan harus diajukan dengan niat yang jujur dan tidak bertujuan untuk menumpang pada reputasi pihak lain atau melakukan persaingan curang. Pasal 21 ayat (3) secara eksplisit menjadikan itikad tidak baik sebagai dasar penolakan.  

D. Peran Kritis 'Persamaan pada Pokoknya'

Konsep "persamaan pada pokoknya" yang digunakan dalam Pasal 21 ayat (1) merupakan salah satu elemen paling penting sekaligus paling subjektif dalam pemeriksaan substantif dan penyelesaian sengketa merek. UU MIG sendiri tidak memberikan definisi matematis atau daftar periksa yang kaku untuk menentukan kapan dua merek memiliki persamaan pada pokoknya. Penjelasan Pasal 21 ayat (1) menyatakan bahwa persamaan pada pokoknya adalah "kemiripan yang disebabkan oleh adanya unsur yang dominan antara Merek yang satu dengan Merek yang lain sehingga menimbulkan kesan adanya persamaan, baik mengenai bentuk, cara penempatan, cara penulisan atau kombinasi antara unsur, maupun persamaan bunyi ucapan".  

Artinya, penilaian tidak hanya didasarkan pada perbandingan elemen per elemen secara terpisah, tetapi pada kesan keseluruhan (overall impression) yang ditimbulkan oleh merek tersebut di benak konsumen yang relevan. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dapat mencakup kemiripan visual (bentuk logo, gaya tulisan), kemiripan fonetik (bunyi pengucapan), dan kemiripan konseptual (makna atau ide yang disampaikan). Unsur mana yang dianggap "dominan" juga bergantung pada konteks merek dan persepsi konsumen.  

Subjektivitas inheren dalam penilaian "persamaan pada pokoknya" ini memiliki implikasi signifikan. Pertama, hasil pemeriksaan substantif oleh DJKI bisa jadi sulit diprediksi secara pasti. Kedua, dalam kasus sengketa di pengadilan, argumentasi mengenai ada atau tidaknya persamaan pada pokoknya seringkali menjadi inti perdebatan. Hal ini menekankan pentingnya melakukan penelusuran merek (trademark search) yang komprehensif sebelum mengajukan permohonan. Tidak cukup hanya memastikan merek tidak identik; perlu dianalisis potensi kemiripannya secara keseluruhan dengan merek-merek yang sudah ada. Konsultasi dengan ahli hukum kekayaan intelektual sangat disarankan untuk mendapatkan penilaian risiko yang lebih akurat mengenai potensi penolakan berdasarkan alasan persamaan pada pokoknya.

VIII. Hak Eksklusif Pemilik Merek Terdaftar

Pendaftaran merek yang berhasil memberikan serangkaian hak eksklusif kepada pemiliknya, yang merupakan inti dari perlindungan hukum merek.

A. Sumber Hak Eksklusif

Hak atas Merek, termasuk hak eksklusif di dalamnya, baru diperoleh setelah merek tersebut terdaftar di DJKI. Pasal 1 angka 5 UU MIG mendefinisikan Hak atas Merek sebagai "hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik Merek yang terdaftar untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri Merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya". Jadi, pendaftaran adalah syarat mutlak untuk lahirnya hak eksklusif yang diakui dan dilindungi oleh negara.  

B. Rincian Hak Eksklusif

Hak eksklusif yang diberikan kepada pemilik merek terdaftar mencakup beberapa kewenangan utama:

  1. Hak Menggunakan Sendiri (Right to Use): Pemilik memiliki hak tunggal untuk menggunakan merek terdaftarnya dalam kegiatan perdagangan untuk barang dan/atau jasa yang tercantum dalam sertifikat merek. Penggunaan ini bisa dalam bentuk pencantuman pada produk, kemasan, materi promosi, dan lain-lain.  
  2. Hak Memberikan Izin (Right to License): Pemilik berhak memberikan izin atau lisensi kepada pihak lain (penerima lisensi) untuk menggunakan merek terdaftarnya. Pemberian lisensi ini harus dituangkan dalam perjanjian tertulis dan dapat mencakup sebagian atau seluruh jenis barang/jasa yang terdaftar. Kecuali diperjanjikan lain, lisensi berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Perjanjian lisensi wajib dimohonkan pencatatannya kepada Menteri (DJKI).  
  3. Hak Melarang Pihak Lain (Right to Prohibit): Ini adalah aspek defensif dari hak eksklusif. Pemilik berhak melarang pihak lain yang tidak memiliki izin untuk menggunakan merek yang sama atau memiliki persamaan pada pokoknya dengan merek terdaftarnya, terutama untuk barang dan/atau jasa sejenis. Hak inilah yang menjadi dasar untuk mengambil tindakan hukum terhadap pelanggaran merek.  

C. Hak Menegakkan Hukum (Enforcement Rights)

Untuk memastikan hak eksklusifnya dihormati, pemilik merek terdaftar (dan dalam beberapa kasus, penerima lisensi) diberikan hak untuk melakukan penegakan hukum:

  1. Gugatan Perdata: Pemilik merek terdaftar dan/atau penerima lisensi dapat mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Niaga terhadap pihak yang tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang/jasa sejenis. Gugatan dapat berupa tuntutan ganti rugi dan/atau perintah penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut. UU MIG juga memungkinkan pemilik merek terkenal (berdasarkan putusan pengadilan) untuk mengajukan gugatan.  
  2. Tuntutan Pidana: Penggunaan tanpa hak atas merek terdaftar yang sama pada keseluruhannya atau pada pokoknya untuk barang/jasa sejenis merupakan tindak pidana yang diatur dalam Pasal 100 UU MIG. Demikian pula halnya dengan memperdagangkan barang/jasa yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana merek. Perlu dicatat bahwa tindak pidana merek ini merupakan delik aduan (kecuali untuk beberapa kasus tertentu), yang berarti proses hukum pidana hanya dapat dimulai atas laporan atau pengaduan dari pihak yang dirugikan (pemilik merek/penerima lisensi).  
  3. Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS): Selain melalui pengadilan, UU MIG (Pasal 93) juga membuka kemungkinan penyelesaian sengketa merek melalui mekanisme Arbitrase atau Alternatif Penyelesaian Sengketa lainnya. Pilihan ini seringkali dianggap lebih cepat dan efisien dibandingkan litigasi di pengadilan.  

D. Hak Eksklusif Bersyarat pada Pendaftaran

Penting untuk ditekankan bahwa seluruh rangkaian hak eksklusif ini, terutama hak untuk melarang pihak lain dan hak untuk menempuh jalur hukum (baik perdata maupun pidana), hanya timbul setelah merek tersebut berhasil didaftarkan dan sertifikat merek diterbitkan oleh DJKI. Sebuah merek yang statusnya masih dalam proses permohonan pendaftaran, meskipun telah mendapatkan tanggal penerimaan (filing date) dan prioritas berdasarkan prinsip 'first-to-file', secara hukum belum memiliki hak eksklusif. Pemohon belum dapat melarang pihak lain menggunakan merek serupa atau mengajukan gugatan pelanggaran berdasarkan permohonan yang masih berjalan tersebut.  

Konsekuensi logisnya adalah, meskipun pengajuan permohonan sedini mungkin sangat krusial untuk mengamankan tanggal prioritas, upaya untuk menyelesaikan proses pendaftaran hingga terbitnya sertifikat menjadi sama pentingnya. Sertifikat merek adalah bukti formal pemberian hak eksklusif oleh negara. Tanpa sertifikat tersebut, kemampuan pemilik untuk secara efektif melindungi mereknya dari pelanggaran menjadi sangat terbatas menurut hukum Indonesia. Ini menggarisbawahi pentingnya tidak hanya mengajukan permohonan, tetapi juga secara aktif memantau dan menindaklanjuti proses pemeriksaan hingga pendaftaran selesai.

IX. Jangka Waktu Perlindungan dan Perpanjangan Merek

Perlindungan merek terdaftar tidak berlaku selamanya, melainkan memiliki jangka waktu tertentu yang dapat diperpanjang.

A. Durasi Perlindungan Awal

Berdasarkan Pasal 35 ayat (1) UU MIG, merek yang telah terdaftar mendapatkan perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun. Jangka waktu ini dihitung sejak Tanggal Penerimaan permohonan pendaftaran merek tersebut.  

B. Perpanjangan Perlindungan

Setelah jangka waktu 10 tahun pertama berakhir, perlindungan merek dapat diperpanjang. Pasal 35 ayat (2) UU MIG menyatakan bahwa perpanjangan diberikan untuk jangka waktu yang sama, yaitu 10 (sepuluh) tahun berikutnya. Proses perpanjangan ini dapat dilakukan berulang kali setiap 10 tahun, selama persyaratan perpanjangan dipenuhi oleh pemilik merek. Ini memungkinkan perlindungan merek berlangsung terus-menerus sepanjang merek tersebut masih aktif digunakan dalam kegiatan usaha.  

C. Prosedur dan Jangka Waktu Pengajuan Perpanjangan

Pemilik merek atau kuasanya harus mengajukan permohonan perpanjangan secara proaktif kepada DJKI, baik secara elektronik maupun non-elektronik. UU MIG menetapkan jendela waktu spesifik untuk pengajuan perpanjangan:  

  • Periode Normal: Permohonan perpanjangan dapat diajukan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum tanggal berakhirnya jangka waktu perlindungan merek. Pengajuan dalam periode ini dikenai biaya perpanjangan (PNBP) sesuai tarif yang berlaku. Ini adalah waktu yang ideal untuk mengajukan perpanjangan.  
  • Periode Toleransi (Grace Period): Jika pemilik merek terlambat mengajukan perpanjangan sebelum tanggal berakhirnya perlindungan, UU MIG memberikan masa tenggang atau grace period. Permohonan perpanjangan masih dapat diajukan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan setelah tanggal berakhirnya perlindungan merek. Namun, pengajuan dalam grace period ini akan dikenai biaya perpanjangan ditambah denda sebesar biaya perpanjangan.  
  • Konsekuensi Keterlambatan Melebihi Grace Period: Apabila pemilik merek gagal mengajukan permohonan perpanjangan bahkan setelah grace period 6 bulan berakhir, maka merek terdaftar tersebut akan dihapus dari daftar umum merek. Perlindungan hukumnya berakhir, dan jika pemilik ingin mendapatkan perlindungan kembali, ia harus mengajukan permohonan pendaftaran merek sebagai permohonan baru, dengan risiko merek tersebut mungkin sudah didaftarkan oleh pihak lain atau tidak lagi memenuhi syarat pendaftaran.  

D. Syarat Perpanjangan (Pasal 36 UU MIG)

Agar permohonan perpanjangan disetujui oleh DJKI, pemilik merek harus memenuhi syarat substantif yang diatur dalam Pasal 36 UU MIG. Permohonan perpanjangan harus disertai dengan surat pernyataan yang menyatakan bahwa :  

  1. Merek yang bersangkutan masih digunakan pada barang atau jasa sebagaimana dicantumkan dalam sertifikat merek tersebut; DAN
  2. Barang atau jasa yang menggunakan merek tersebut masih diproduksi dan/atau diperdagangkan.

Selain surat pernyataan penggunaan, pemohon juga harus melampirkan bukti pembayaran biaya perpanjangan (dan denda jika diajukan dalam grace period) serta surat kuasa jika pengajuan dilakukan melalui kuasa. Jika syarat penggunaan ini tidak terpenuhi, permohonan perpanjangan akan ditolak. Jika disetujui, perpanjangan akan dicatat dan diumumkan dalam Berita Resmi Merek.  

E. Persyaratan Penggunaan sebagai Mekanisme Anti-Penimbunan Merek

Persyaratan eksplisit dalam Pasal 36 UU MIG, yang mengharuskan pemilik merek menyatakan bahwa mereknya masih digunakan pada barang/jasa yang terdaftar dan barang/jasa tersebut masih diproduksi/diperdagangkan agar perpanjangan dapat disetujui , memiliki fungsi penting di luar sekadar formalitas administratif. Ketentuan ini berfungsi sebagai mekanisme untuk mencegah praktik penimbunan merek (trademark warehousing).  

Meskipun sistem pendaftaran Indonesia didasarkan pada 'first-to-file', pemeliharaan hak jangka panjang secara efektif terikat pada penggunaan komersial yang nyata. Dengan mensyaratkan bukti (dalam bentuk pernyataan) penggunaan pada saat perpanjangan, UU MIG memastikan bahwa hak eksklusif atas merek dipertahankan oleh entitas yang secara aktif memanfaatkan merek tersebut dalam kegiatan ekonomi. Hal ini sejalan dengan tujuan dasar merek sebagai alat pembeda di pasar yang aktif. Tanpa persyaratan penggunaan ini, pihak-pihak tertentu dapat mendaftarkan banyak merek tanpa niat serius untuk menggunakannya, hanya untuk memblokir pesaing atau untuk tujuan spekulatif. Persyaratan penggunaan dalam Pasal 36 membantu menjaga agar daftar merek diisi oleh merek-merek yang benar-benar berfungsi di pasar, bukan sekadar "nama di atas kertas".  

Implikasinya bagi pemilik merek adalah keharusan untuk tidak hanya mendaftarkan merek mereka, tetapi juga secara konsisten menggunakannya untuk barang dan jasa yang tercantum dalam sertifikat. Dokumentasi atau bukti penggunaan (meskipun tidak wajib dilampirkan saat perpanjangan, namun penting jika ada sengketa atau gugatan penghapusan karena tidak dipakai) menjadi krusial. Kegagalan menggunakan merek sesuai pendaftaran tidak hanya berisiko pada penolakan perpanjangan setiap 10 tahun, tetapi juga dapat membuat merek rentan terhadap gugatan penghapusan oleh pihak ketiga berdasarkan alasan tidak digunakannya merek selama 3 tahun berturut-turut (ketentuan mengenai penghapusan karena tidak dipakai diatur dalam Pasal 74 UU MIG, meskipun tidak secara rinci dibahas dalam materi sumber yang tersedia).

X. Implikasi dan Rekomendasi Praktis

Analisis terhadap kerangka hukum merek di Indonesia berdasarkan UU MIG No. 20 Tahun 2016 menghasilkan beberapa implikasi praktis dan rekomendasi bagi pelaku usaha:

  1. Pentingnya Pendaftaran Dini: Mengingat sistem 'first-to-file' yang dianut Indonesia , tindakan mendaftarkan merek sesegera mungkin setelah dipilih menjadi sangat krusial. Pendaftaran awal mengamankan tanggal prioritas dan merupakan langkah pertama menuju perolehan hak eksklusif yang dapat ditegakkan. Menunda pendaftaran meningkatkan risiko pihak lain mendaftarkan merek yang sama atau serupa terlebih dahulu.  
  2. Pemilihan Merek yang Kuat dan Bebas Konflik: Pilihlah merek yang memiliki daya pembeda yang kuat secara inheren. Hindari merek yang bersifat deskriptif, generik, atau menyesatkan. Sebelum menetapkan dan mengajukan pendaftaran, lakukan penelusuran (trademark search) yang cermat untuk memastikan merek yang dipilih tidak memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek terdaftar, merek terkenal, atau indikasi geografis yang sudah ada. Hal ini untuk meminimalkan risiko penolakan berdasarkan Pasal 20 dan Pasal 21 UU MIG.  
  3. Penggunaan Merek Secara Konsisten dan Sesuai Pendaftaran: Setelah merek terdaftar, gunakan merek tersebut secara aktif dan konsisten dalam perdagangan sesuai dengan label merek yang didaftarkan dan untuk kelas barang/jasa yang tercantum dalam sertifikat. Penggunaan yang tidak sesuai dapat menjadi dasar penghapusan. Penggunaan aktif juga merupakan syarat mutlak untuk dapat memperpanjang perlindungan merek setiap 10 tahun. Simpan bukti-bukti penggunaan merek.  
  4. Pemantauan (Monitoring) Pasar dan Publikasi Resmi: Lakukan pemantauan secara berkala terhadap pasar dan publikasi resmi DJKI (Berita Resmi Merek). Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini potensi pelanggaran oleh pihak lain atau adanya permohonan pendaftaran merek baru yang serupa dengan merek Anda, sehingga dapat diajukan keberatan (oposisi) dalam jangka waktu yang ditentukan.  
  5. Penegakan Hak (Enforcement) Secara Tegas: Jika menemukan adanya pelanggaran terhadap merek terdaftar Anda, jangan ragu untuk mengambil langkah penegakan hukum. Pilihan meliputi somasi (peringatan), negosiasi, mediasi/APS, gugatan perdata ke Pengadilan Niaga, atau laporan pidana (untuk delik aduan). Tindakan tegas diperlukan untuk melindungi hak eksklusif dan mencegah kerugian lebih lanjut.  
  6. Manajemen Portofolio Merek yang Proaktif: Bagi bisnis yang memiliki beberapa merek, kelola portofolio merek secara sistematis. Catat tanggal penting, terutama tanggal berakhirnya perlindungan dan batas waktu pengajuan perpanjangan. Gunakan sistem pengingat agar tidak terlewat mengajukan perpanjangan, mengingat konsekuensi keterlambatan bisa berupa denda atau bahkan hilangnya hak atas merek.  
  7. Manfaatkan Konsultasi Profesional: Hukum merek bisa menjadi kompleks. Pertimbangkan untuk menggunakan jasa Konsultan Kekayaan Intelektual (Kuasa Merek) yang terdaftar di DJKI. Mereka dapat membantu dalam proses penelusuran, pendaftaran, perpanjangan, penanganan sengketa, dan memberikan nasihat strategis. Penggunaan Kuasa adalah wajib bagi pemohon asing , namun juga sangat dianjurkan bagi pemohon domestik untuk memastikan kepatuhan dan memaksimalkan peluang keberhasilan.  

XI. Kesimpulan

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis merupakan pilar utama sistem perlindungan merek di Indonesia saat ini. Undang-undang ini mencerminkan upaya modernisasi dan harmonisasi dengan standar internasional, yang terlihat dari definisi merek yang lebih luas dengan mengakomodasi tanda-tanda non-tradisional, serta fasilitasi pendaftaran internasional melalui Protokol Madrid.

Konsep fundamental merek sebagai pembeda identitas barang dan jasa di pasar tetap menjadi inti, didukung oleh fungsi-fungsi penting lainnya seperti penunjuk asal, jaminan kualitas, alat promosi, dan aset ekonomi. Untuk memperoleh perlindungan, suatu merek harus memenuhi syarat substantif utama, yaitu memiliki daya pembeda yang cukup dan tidak termasuk dalam kategori alasan penolakan absolut (Pasal 20) maupun relatif (Pasal 21), serta diajukan dengan itikad baik. Sistem 'first-to-file' yang dianut dimoderasi secara signifikan oleh prinsip itikad baik ini.

Pemilik merek terdaftar dianugerahi hak eksklusif yang kuat, mencakup hak untuk menggunakan sendiri, melisensikan, dan melarang pihak lain menggunakan merek serupa tanpa izin, serta hak untuk menempuh jalur hukum perdata maupun pidana. Namun, hak eksklusif ini baru timbul setelah pendaftaran berhasil dan berlaku selama 10 tahun, yang dapat diperpanjang berulang kali untuk periode 10 tahun berikutnya, dengan syarat krusial bahwa merek tersebut masih terus digunakan secara aktif dalam perdagangan.

Secara keseluruhan, UU MIG menyediakan kerangka hukum yang komprehensif untuk perlindungan merek di Indonesia. Namun, kompleksitas peraturan pelaksana dan dinamika interpretasi hukum, terutama terkait konsep seperti 'daya pembeda' dan 'persamaan pada pokoknya', menuntut pemahaman yang cermat dan strategi yang proaktif dari para pelaku usaha. Pendaftaran dini, pemilihan merek yang kuat, penggunaan yang konsisten, pemantauan aktif, penegakan hak yang tegas, dan manajemen portofolio yang baik, idealnya dengan dukungan profesional, merupakan kunci untuk memanfaatkan merek sebagai aset bisnis strategis yang terlindungi secara optimal dalam lanskap hukum Indonesia.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pokok-pokok Hukum Ketenagakerjaan

1. Pendahuluan: Konteks dan Urgensi Pemahaman Hukum Ketenagakerjaan Indonesia Hukum ketenagakerjaan memegang peranan sentral sebagai salah s...